PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF
Definisi Pengajaran dan Pembelajaran
Pengajaran dan pembelajaran mengacu pada bagaimana
sekolah mampu merespon kebutuhan siswa mereka dengan cara terbaik melalui
penggunaan praktek pedagogis yang tepat untuk mendukung kualitas tertinggi dalam
praktek dan kegiatan pendidikan. Standar pengajaran dan pembelajaran dapat diukur
melalui proses seperti pengembangan profesional, mentoring, pengawasan dan pemodelan. Proses tersebut sangat penting
untuk meningkatkan standar umum sekolah dan mendorong sekolah untuk terus bergerak
maju.
Definisi Kurikulum: Kurikulum adalah sebuah rencana
belajar-mengajar yang lengkap yang dikembangkan menjadi sebuah kerangka standar
kegiatan sebagaimana kemudian dituliskan menjadi sebuah silabus. Sebuah kurikulum
dari suatu kursus atau program pembelajaran terdiri dari sekian jumlah unit
pembelajaran.
Pentingnya Praktek Pengajaran
dan Pembelajaran yang Efektif
Sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan agar dapat menghasilkan
hasil pembelajaran yang diinginkan bagi sebuah sekolah antara lain adalah: (i)
penyediaan input yang memadai dan relevan, (ii) Kurikulum yang progresif, (iii)
pengajaran / fasilitasi dengan cara yang mampu meningkatkan minat dan pemahaman
siswa, (iv) sistem penilaian yang mengukur kemampuan kognitif dan non-kognitif,
(v) akuntabilitas guru dan pihak sekolah dan (vi) kemitraan antara sekolah dan keluarga
yang membantu memperkuat kebiasaan belajar yang tepat dalam diri siswa selama
di rumah. Sekolah perlu memastikan bahwa praktek belajar di kelas terus
ditingkatkan efektivitasnya. Apa yang terjadi di dalam kelas menjadi dasar
untuk semua pembelajaran lain di sekolah. Dan, sebagai unsur yang tidak kalah
penting, praktek pengajaran dan pembelajaran harus selalu bersifat segar dan
up-to-date.
Dampak dari Kurikulum yang diajarkan yang sebenarnya
pada kualitas sekolah dan belajar mandiri siswa sangat penting. Oleh karena itu
penting untuk bekerja keras menciptakan suatu kurikulum dalam cara yang paling
efektif mungkin.
Guru memahami metodologi baru dimana belajar dimasukkan
dalam praktek di ruang kelas. Hal ini dapat dicapai dengan menempatkan metode-metode
seperti pembinaan dan pendampingan antar teman, serta penelitian tindakan.
Dengan cara ini guru belajar meningkatkan pengaturan kelas mereka sendiri.
Guru adalah pendidik utama di sekolah dan dengan
demikian mereka bertanggung jawab untuk tugas-tugas kompleks. Mereka
terus-menerus menanggapi harapan yang beragam dari siswa, orang tua dan
lingkungan kerja secara langsung. Ketika para guru diberi kesempatan untuk
menanggapi harapan ini lewat penerapan metodologi belajar terbaik maka cara belajar
siswa pun akan meningkat.
Guru dan peserta didik membawa bersama mereka
pengetahuan yang sebelumnya sudah mereka dapat masing-masing. Mereka juga
membawa bersama mereka latar belakang budaya mereka sendiri dan asumsi mereka
sendiri tentang kegiatan belajar. Hal ini perlu terus dipertimbangkan dan
dimanfaatkan di dalam kelas.
Guru dan peserta didik berinteraksi satu sama lain
dari waktu ke waktu. Mereka mengembangkan hubungan kerja yang terus berjalan.
Bagaimana siswa dengan baik dan guru saling berhubungan satu sama lain, saling mengetahui
dan memahami satu sama lain akan memiliki pengaruh langsung pada tingkat
pembelajaran yang terjadi.
Kemampuan seorang guru untuk memahami isi pelajaran
dan bagaimana melibatkan siswa dalam konten tersebut sangat menentukan apa yang
bisa dan tidak diajarkan.
Harapan guru tentang bagaimana siswa akan mampu
mengatasi tugas-tugas akademik mereka dan bagaimana mereka dapat dibimbing
untuk menghadapi tantangan akademik yang lebih besar memiliki dampak langsung
pada tingkat pembelajaran yang terjadi.
Pemahaman seorang guru tentang bagaimana pembelajaran tersebut
dapat ditunjukkan akan berdampak pada tingkat pembelajaran. Cara belajar dapat diajarkan
sebagai suatu tindakan atau kebiasaan, termasuk apa hasil dari memperoleh
pengetahuan dan keterampilan itu, sehingga penting bagi kita untuk memastikan
hasil ini selalu dapat diukur.
Meningkatkan Praktek
Pengajaran dan Pembelajaran
Seorang guru selalu dituntut untuk memainkan multiperan
sekaligus seperti: guru inti atau dasar Kurikulum, fasilitator pembelajaran, pendukung
bagi murid dengan kebutuhan khusus, pelaksana kebijakan sekolah, desainer
kurikulum, perancang strategi pembelajaran, evaluator, manajer atau guru wali kelas,
panutan, dan anggota tim, seorang motivator dll. Seorang guru dengan demikian membutuhkan
banyak dukungan untuk mempertahankan efektivitas dari beragam peran-peran tersebut.
• Menyediakan sumberdaya dan Pengembangan Profesional untuk
meningkatkan instruksi belajar.
• Bekerja secara langsung dengan para guru untuk meningkatkan
efisiensi proses di ruang kelas melalui modelling
atau memberikan contoh, mendukung dan mengawasi.
• Berkoordinasi dan mengevalusi kurikulum, instruksi belajar dan
penilaian.
• Rutin memantau kemajuan pengajaran dan murid ajar.
• Mengembangkan dan mempertahankan norma-norma dan harapan yang
diterima bersama dengan para murid, staf dan keluarga mereka.
Mengoptimalkan
Pembelajaran
1. Menetapkan fokus publik pada pembelajaran
dan memastikan bahwa pembelajaran tersebut dilihat sebagai hal paling pokok
dari semua proses dan kegiatan di sekolah.
2. Membangun komunitas profesional yang kuat,
yang menghargai pembelajaran dengan cara memastikan bahwa semua staf sudah
memiliki akses ke mentoring, pengembangan
profesional dll.
3. Melibatkan jejaring di luar sekolah yang
juga menghargai proses pembelajaran dan berbagi sumberdaya antar sekolah yang
berbeda.
Pengaturan dan
Penataan Ruangan Kelas
Suatu ruang kelas yang ditata secara interaktif dapat memberikan
indikasi tingkat Pengajaran dan Pembelajaran yang terjadi. Contohnya adalah
ketika meja-kursi siswa diatur secara berkelompok atau dalam bentuk U, atau
ketika hasil tulisan atau karya siswa ditampilkan di dindingnya, berarti proses
yang terjadi lebih interaktif dibandingkan ruang kelas yang ditata secara
konvensional. Pengaturan semacam ini mendorong interaksi yang lebih tinggi di ruang
kelas dan saling belajar melalui pengalaman. Siswa didorong untuk mencari
solusi sendiri bagi masalah yang mereka hadapi, dan dibantu untuk mengungkapkan
pikiran mereka sendiri dan menciptakan lingkungan kerja seperti yang mereka
sendiri harapkan.
Secara tradisional proses pengajaran dan pembelajaran
di Indonesia memang terdiri dari kegiatan belajar yang mayoritas menghafal
fakta. Hasilnya banyak siswa lulus dengan kemampuan berbahasa yang buruk dan
keterampilan pemecahan masalah yang lemah tanpa kemampuan kreativitas untuk
mengatasi banyak tantangan kehidupan sehari-hari.
Tidak cukup kalau kita ingin membangun sekolah-sekolah
dan mengharapkan anak-anak agar datang dan memohon untuk diajari. Sekolah
benar-benar hebat adalah sekolah yang mengakui bahwa mereka memang tidak
memiliki semua pengetahuan yang diinginkan siswa, dan tidak menghalangi para
siswa untuk mendapatkan informasi itu dari luar dengan cara menyaringnya. Sekolah
yang baik sadar bahwa mereka itu seperti halnya muara dari banyak sungai-sungai
yang membiarkan aliran pengetahuan masuk dan membiarkan para siswa mengeksplorasi
semuanya" (Richard Gerver: Creating
Tomorrow’s Schools Today, Continuum Press, 2010). Oleh karena itu perlu
untuk menciptakan suatu konteks di mana anak-anak kita bisa belajar dengan leluasa.
Tugas kita sebagai pendidik adalah memastikan bahwa para siswa selalu merasa
bahwa belajar itu tanggung jawab mereka sendiri, dan mereka itulah yang punya kekuatan
untuk mengendalikan hidup mereka sendiri.
Empat Peran
Utama Pengajaran dan Pembelajaran
1.
Individu:
Semua siswa dianggap unik dalam hal minat, bakat, imajinasi dan potensi passion mereka. Salah satu tujuan
pendidikan adalah membantu mewujudkan potensi individu masing-masing tersebut.
2.
Budaya:
Pendidikan harus membantu siswa memahami prestasi dan tradisi komunitas mereka
sendiri dan orang lain. Pendidikan harus mampu membuat mereka lebih empati dan
toleran terhadap perbedaan.
3.
Ekonomi:
Pendidikan harus memungkinkan siswa nantinya menjadi mandiri secara finansial
dan berkontribusi untuk penciptaan kesejahteraan dengan cara yang etis dan
berkelanjutan.
4.
Sosial:
Pendidikan harus mengarah ke penciptaan masyarakat yang makin kokoh. Kegiatan pengajaran
dan pembelajaran harus dibingkai dalam kemitraan dengan orang tua, keluarga, dan
masyarakat luas. Dengan demikian, pendidikan akan menumbuhkan semangat sosial
dan rasa tanggung jawab siswa terhadap masyarakat.
Bagaimana
mengembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi berdasarkan empat komponen: Communication, Enterprise, Culture dan Well-being:
Kompetensi
untuk Pembelajaran:
Siswa:
·
Memahami cara
belajar dengan memperhitungkan gaya pembelajaran pribadi yang lebih disukai dan
memahami kebutuhan untuk mengelola kebutuhan tersebut dan bagaimana mengelola kebutuhan
belajar tersebut sepanjang hidup.
·
Telah belajar
berpikir secara makin sistematis.
·
Telah mengeksplorasi
dan mencapai pemahaman tentang bakat kreatif mereka sendiri dan cara terbaik
untuk memanfaatkannya.
·
Telah belajar
menikmati dan suka belajar untuk kepentingan diri sendiri dan menjadikannya bagian
dari pemahaman diri.
·
Telah mencapai
standar tinggi dalam kemampuan membaca, berhitung dan pemahaman ruang.
·
Telah mencapai
standar kompetensi yang tinggi dalam menangani teknologi informasi dan
komunikasi dan memahami proses-proses yang mendasarinya.
Kompetensi
untuk Kewarganegaraan:
Siswa:
·
Telah
mengembangkan pemahaman tentang etika dan nilai-nilai, bagaimana perilaku
pribadi harus ditempatkan dalam kepentingan masyarakat, serta bagaimana berkontribusi
kepada masyarakat.
·
Memahami
bagaimana masyarakat, pemerintah dan bisnis saling berkaitan dan pentingnya aktif
dalam kewajiban kewarganegaraan.
·
Memahami
keragaman budaya dan masyarakat, dalam konteks nasional dan global, dan mengapa
ini harus dihormati dan dihargai.
·
Memahami
implikasi sosial dari teknologi
·
Telah
mengembangkan pemahaman bagaimana mengelola kehidupan mereka sendiri, dan
metode mungkin harus mereka gunakan untuk memahami hal ini - termasuk mengelola
urusan keuangan mereka.
Kompetensi
untuk Membangun Relasi dengan Orang Lain:
Siswa:
·
Memahami
bagaimana berhubungan dengan orang lain dalam berbagai konteks di mana mereka
mungkin menemukan diri mereka, termasuk orang yang mereka kelola atau saat
mereka dikelola oleh orang lain.
·
Memahami cara bekerjasama
dalam tim, dan kapasitas mereka sendiri untuk mengisi peran yang berbeda dalam
satu tim.
·
Memahami
bagaimana mengembangkan orang lain, entah sebagai teman atau pembimbing.
·
Telah mengembangkan
serangkaian metode yang berbeda untuk berkomunikasi dengan cara yang berbeda, serta
paham bagaimana dan kapan harus menggunakannya.
·
Telah
mengembangkan kompetensi mengelola hubungan pribadi.
·
Memahami dan
dapat menggunakan berbagai cara mengelola stres dan konflik dalam relasi dengan
orang lain.
Kompetensi
untuk Menangani Situasi Hidup:
Siswa:
·
Memahami
pentingnya mengelola waktu mereka sendiri dan mengembangkan metode yang mereka
pilih sendiri sebagai solusi masalah yang mereka hadapi.
·
Memahami apa
yang dimaksud dengan mengelola perubahan dan telah mengembangkan berbagai
metode untuk menghadapi situasi yang berbeda-beda.
·
Memahami
pentingnya merayakan keberhasilan dan mengelola kekecewaan diri, dan cara menangani
hal-hal tersebut.
·
Memahami apa
yang dimaksud dengan memiliki sifat serta kemampuan kewirausahaan dan mengambil
inisiatif serta bagaimana mengembangkan kapasitas untuk itu.
·
Memahami
bagaimana mengelola risiko dan ketidakpastian, berbagai konteks di mana resiko
dan ketidakpastian akan ditemui dan cara mengelola keduanya agar tidak
merugikan.
Kompetensi
untuk Menangani Informasi:
Siswa:
·
Mengembangkan
berbagai metode untuk mengakses, mengevaluasi dan membedakan berbagai informasi
dan telah belajar bagaimana menganalisa, merangkum serta menerapkan informasi
tersebut menjadi hasil.
·
Memahami pentingnya
mencerminkan dan menerapkan cara penilaian kritis terhadap informasi yang
diterima, dan telah belajar bagaimana melakukannya.
Selalu ingat
bahwa suatu pembelajaran haruslah berguna bagi para siswa, dan agar bisa
berguna, maka pembelajaran itu harus punya relevansi dan konteks yang sama
dengan kebutuhan siswa. Jika para mantan murid Anda tidak bisa mengatakan
dengan bangga bahwa masa mereka sekolah dulu itu sungguh telah membuat mereka
mampu dan mandiri, maka Anda sebagai pendidik telah gagal mendidik mereka.
Komponen-komponen
Praktek Profesional bagi Para guru
Domain 1: Perencanaan
dan Persiapan
Termasuk didalamnya pemahaman yang
komprehensif tentang konteks yang akan diajarkan, pengetahuan tentang latar
belakang siswa, dan penyusunan instruksi dan piranti asesmen. Komponennya
sebagai berikut:
1. Mendemonstrasikan
pengetahuan tentang konten dan pedagogi
2.
Mendemonstrasikan pengetahuan tentang siswa
3. Memilih
tujuan instruksional
4. Merancang
instruksi yang koheren
5. Menilai
prestasi belajar siswa
Domain 2: Lingkungan
Belajar di Kelas
Bidang ini membahas keterampilan guru dalam membangun
lingkungan kelas yang kondusif untuk belajar, termasuk aspek fisik dan faktor interpersonal.
Komponen-komponennya adalah:
1.
Membuat lingkungan
yang penuh rasa hormat dan relasi yang baik
2.
Membangun
budaya suka belajar
3.
Mengelola
prosedur kelas
4.
Mengelola
perilaku siswa
5.
Pengorganisasian
ruang fisik
Domain 3:
Instruksi
Hal ini berkaitan dengan keterampilan guru dalam
melibatkan siswa untuk belajar konten, dan mencakup berbagai strategi
pembelajaran yang memungkinkan siswa lebih efektif dalam belajar.
Komponen-komponennya adalah:
1.
Berkomunikasi
dengan jelas dan akurat
2.
Menggunakan teknik
pertanyaan dan diskusi
3.
Melibatkan siswa
dalam pembelajaran
4.
Memberikan
umpan balik untuk siswa
5.
Menunjukkan
fleksibilitas dan sikap responsif
Domain 4: Tanggungjawab
Profesional
Bidang ini membahas tanggung jawab profesional
tambahan guru, termasuk penilaian diri dan refleksi, komunikasi dengan orang
tua, agar berpartisipasi dalam pengembangan profesional berkelanjutan, dan
berkontribusi terhadap lingkungan sekolah dan di lingkup kabupaten.
Komponen-komponennya adalah:
1.
Merefleksikan atau
mengevaluasi pengajaran
2.
Memelihara
catatan yang akurat
3.
Berkomunikasi
dengan pihak keluarga siswa
4.
Berkontribusi
ke sekolah dan kabupaten
5.
Tumbuh dan
berkembang secara profesional
6.
Menampilkan
profesionalisme
Comments
Post a Comment